Ketua Bawaslu Kab Semarang M Talkis memberikan sambutan dalam sosialisasi. (Foto : Hersant)
KAB. SEMARANG, Oligarki.id : Sosialisasi Pengawasan Partisipatif yang digelar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kab Semarang di Hotel Terra Cassa, Bandungan, kemarin mengangkat tema “Mari Bangkit Bersama Awasi Pemilu 2024 Untuk Wujudkan Pemilu Bermartabat Melalui Seni dan Budaya”.
Dalam sosialisasi tersebut, Bawaslu menghadirkan Kelompok Seni dan Budaya, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Organisasi Kepemudaan (OKP) di Kab Semarang.
Ketua Bawaslu Kab Semarang Muhammad Talkis mengatakan, bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan mengajak kelompok seni dan budaya melakukan pengawasan partisipatif. Hal ini guna mensukseskan Pemilu 2024 yang bermartabat. Dicontohkan juga bahwa pernah terjadi di Kab Semarang saat kampanye dengan memanfaatkan kelompok seni dan budaya yang dikemas dengan pentas wayang kulit dan didalamnya ditumpangi kegiatan politik.
“Ini contoh yang pernah terjadi di Kab Semarang pada Pemilu 2019 lalu. Yaitu, pentas wayang kulit dan menghadirkan calon anggota DPRD Jawa Tengah dan calon anggota DPRD Kab Semarang. Kedatangan kedua caleg itu untuk memberikan sumbangan. Kasus ini akhirnya masuk proses hukum. Dari pengalaman kasus itu, maka sosialisasi pengawasan partisipatif dengan menghadirkan kelompok seni dan budaya itu sangat penting. Dengan harapan, pada Pemilu 2024 tidak akan terulang,” jelas M Talkis kepada Oligarki.id, Sabtu (27/05/2023).
Nara sumber yang dihadirkan adalah Farid Zamroni dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Materi yang dibawakan terkait dengan potensi informasi yang akan terjadi di tahun politik. Pengalaman pada Pemilu 2019 lalu, berita bohong terus bermunculan dan justru saling menyerang antar peserta Pilpres 2019.
“Dari data Pemilu 2019 lalu, ada 1.221 berita bohong atau hoax. Modusnya saling serang antar pendukung peserta Pilpres 2019. Modus seperti ini, diprediksi akan muncul pada Pemilu 2024. Tahun 2023 sampai dengan bulan Maret ini, ada sebanyak 664 berita bohong. Untuk itu, pesan kami kepada masyarakat tidak terlalu mudah percaya dengan berita-berita yang tidak jelas,” tandasnya. (HERU SANTOSO).











