Sekolah SMPN 21 Pekanbaru Terindikasi Pungli Lahan Bisnis Cari Uang, Kepsek Efa Dewi Bungkam

Delikhukrim.com, Pekanbaru – Kendati, Kemendikbud melarang adanya pungutan terhadap siswa sekolah negeri. Namun, masih saja ada sekolah yang melakukan pungli terhadap siswanya dengan dalih uang lingkungan sebesar Rp 2.000,. pada masing-masing setiap siswa nya hal itu dilakukan seminggu sekali setiap hari Senin.

Keluhan tersebut disampaikan oleh siswa SMP NEGERI 2 1 Pekanbaru. tepat nya di Jalan Soekarno Hatta Nomor. 639, Sidomulyo Timur, Kecamatan. Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru Provinsi Riau.

Pungutan liar yang berdalih untuk uang lingkungan sebesar 2000 rupiah Itu dikeluhkan oleh siswa SMPN 2 1 dipungut seluruh siswa kelas 7 sampai kelas 9.

Ditambah lagi dengan adanya kondisi banjir dilingkungan sekolah SMPN 21 membuat sebagian siswa menggunakan sendal guna menjaga sepatunya agar tidak rusak Namun hal itu membuat pihak sekolah tidak memperbolehkan hal tersebut hingga pihak sekolah menahan sendal dari beberapa siswanya yang tertangkap oleh pihak guru SMPN 2 1 karena tidak diperbolehkan gunakan sandal walaupun dalam keadaan banjir.

Ditambah lagi, problematika mengenai adanya penjualan paket buku Lembar Kerja Siswa (LKS), dengan berdalih tidak dipaksakan dengan Mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya, padahal pemerintah sudah membuat aturan agar tidak membebankan murid membayar pungutan apapun jenisnya.

Hal ini jelas jelas bertentangan dengan,SURAT EDARAN NOMCIR 14 TAHUN 2023 TENTANG KEGIATAN WISUDA PADA SATUAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, BANTUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR, DAN SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH.

Namun hal itu tidak mempengaruhi peraturan oleh pihak sekolah SMPN 21, hingga banyak orang tua murid yang merasa keberatan dan merasa terpaksa untuk pungutan pungutan oleh pihak SMPN 2 1 Pekanbaru.

Belum lagi pungutan biaya renang pada masing-masing siswa itu setiap Minggunya di pungut namun tidak mengurangi jumlah pungutan siswa yang tidak ikut tetap diwajibkan membayar .

Mengenai buku LKS, walaupun tidak diwajibkan untuk membeli oleh pihak sekolah, namun bila seorang guru memberi tugas pelajaran ke peserta didiknya, yang tugas pelajarannya itu bersangkutan dengan yang ada di buku LKS, maka menjadi keharusan untuk memiliki buku LKS dimaksud.

Hal ini seakan tidak dihiraukan oleh Kepala Sekolah SMPN 21 Hj Eva Dewi M.pd yang dimana, pihak sekolah dimaksud banyaknya pungutan pungutan biaya dana lingkungan serta menjual buku LKS ke peserta didiknya.

 

Hal itu berawal informasi salah satu orang tua siswa SMPN 21 kepada Tim awak media Delikhukrim.com menyampaikan pihak guru menyampaikan ke siswanya untuk buku LKS telah tersedia, hingga para peserta didik berinisiatif untuk membeli buku LKS yang sebelumnya telah diarahkan oleh pihak guru kelas masing-masing.

Dari hasil penelusuran Tim awak media Delikhukrim.com peredaran buku LKS untuk peserta didiknya tepat dijual disebelah gedung SMPN 21 dengan kedai ber plang pangkalan LPG 3Kg milik Elizawati serta foto copy sekaligus melayani jual buku LKS, gunt memastikan tim mengkonfirmasi langsung oleh penjual buku LKS diakuinya bahwa dirinya menjual buku LKS atas kerjasama oleh pihak SMPN 21.

masing-masing peserta didik harus merogoh kocek nya guna membeli buku LKS sebesar Rp.155.000; sebanyak 11 buku dengan masing-masing mata pelajaran untuk setiap kelas.

Atas hal itu Tim awak media Delikhukrim.com dan wartakontras.com, opsinews.com, mengkonfirmasi langsung pihak kepala Sekolah SMPN 21 di ruangan nya,

Namun saat itu kepsek Hj Eva Dewi M.Pd, tidak bisa menjawab malah bungkam dan seakan-akan membenarkan hal tersebut.***(Tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *